Rhinoplax vigil sebagai Identitas Kalimantan Barat

by - 07.45


Sudah lama banget vakum, lagi bingung mau ngepost apa kemudian kepikiran memodifikasi tugas terus nulis disini muehehee, Gak perlu basa-basi aku bakalan menagajak kalian untuk mengenal lebih dekat dengan Enggang Gading, yang mana burung ini merupakan maskot fauna dari Kalimantan Barat. Oke langsung aja ya~

Hutan Indonesia merupakan hutan yang menduduki urutan ketiga terluas di dunia dengan hutan tropis dan dari hutan hujan tropis Papua dan Kalimantan. Hutan hujan tropis yaitu hutan dengan pohon-pohon yang menjulang, pohon ini memiliki kanopi, yaitu lapisan-lapisan cabang pohon beserta daunnya terbentuk oleh rapatnya pepohonan. Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi yang memilki hutan hujan tropis. Dikarenakan terdapat hutan hujan tropis, flora dan fauna sangat beranekaragam. Salah satu fauna yang dilindungi adalah Rhinoplax vigil, dimana burung ini merupakan maskot (fauna identitas) dari provinsi yang melewati garis khatulistiwa ini.
Enggang adalah salah satu jenis burung yang paling menarik di Asia. Burung ini memiliki tubuh yang besar dan warna yang bervariasi, sehingga keberadaan burung ini lebih mudah diketahui dari pada kebanyakan burung lainnya. Meskipun Enggang telah menjadi ikon di hutan tropis Asia, hanya sebagian kecil saja yang menyadari peran penting Enggang ini dalam penyebaran biji tumbuhan tropis. Enggang memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga hutan tropis yang sehat dan beragam (Anggriawan, 2015).
Burung Enggang adalah burung yang terdiri dari 57 spesies yang tersebar di Asia dan Afrika, diantaranya terdapat 14 spesies di Indonesia. Burung Enggang menjadi ikon di hutan tropis Asia, hanya sebagian kecil saja yang menyadari peran penting Enggang ini dalam penyebaran biji tumbuhan tropis. Enggang memiliki peranan yang penting dalam menjaga hutan tropis yang sehat dan beragam (Ulfa, 2009).
Populasi Enggang semakin menurun, akibat berkurangnya kawasan (habitat) akibat dari deforestasi hutan, berkurangnya makanan dan tempat bersarang, serta perburuan semakin marak. Karena jumlahnya yang semakin sedikit, burung Enggang ini termasuk fauna yang dilindungi Undang-undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
Apabila dibiarkan terus-menerus Enggang yang berfungsi sebagai menjaga dinamika hutan akan segera punah, untuk itu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang burung Enggang gading ini. Maraknya perburuan dan pengerusan hutan di Pulau Borneo yang terus-menerus dilakukan, seperti penebangan hutan baik illegal logging maupun untuk dijadikan lahan perkebunan sawit dan sejenisnya yang bertentangan dengan pelestarian alam, serta perburuan yang dilakukan masyarakat sekitar. Hal ini menyebabkan Borneo kehilangan hartanya. Dengan permasalahan tersebut paper ini akan menginformasikan pentingnya untuk menjaga dan melindungi Enggang tersebut, agar maskot dari Kalimantan Barat ini tidak punah.
Bentuk Morfologi

Rhinoplax vigil merupakan kelompok burung yang mudah dikenali karena memiliki ciri khas berupa paruh yang besar. Ukuran tubuhnya mencapai 170 cm. Jenis burung ini sering bertengger bersama pasangannya di pepohonan besar, yang tak jarang bergabung dengan jenis Enggang lainnya. Enggang jantan biasanya memiliki paruh berwarna kuning dan merah dengan leher merah tanpa bulu. Sementara betina lehernya berwarna putih kebiruan. (Rahmad, 2015).


https://www.jalaksuren.net/makanan-burung-rangkong/

Enggang gading merupakan fauna khas Kalimantan Barat. Dalam budaya Kalimantan, burung Enggang gading (tingan) merupakan simbol “Alam Atas” yaitu alam kedewataan yang bersifat “maskulin”. Di Pulau Kalimantan, burung Enggang gading dipakai sebagai lambang daerah atau simbol organisasi seperti di lambang negeri Sarawak, lambang provinsi Kalimantan Barat, satwa identitas provinsi Kalimantan Barat, simbol Universitas Lambung Mangkurat dan sebagainya. Burung Enggang gading merupakan lambang persatuan orang Dayak yang sering diwujudkan dalam bentuk ukiran pada Budaya Dayak.
Secara umum burung Rangkong atau Enggang mempunyai ciri khas berupa paruh yang sangat besar menyerupai tanduk. Di Indonesia, ukuran tubuh Rangkong sekitar 40 – 150 cm, dengan rangkong terberat mencapai 3.6 kilogram. Umumnya warna bulu Rangkong didominasi oleh warna hitam (bagian badan) dan putih pada bagian ekor. Sedangkan warna bagian leher dan kepala cukup bervariasi.
Ketika waktunya mengeram, enggang betina bertelur sampai enam biji telur putih terkurung di dalam kurungan sarang, dibuat antara lain dari kotoran dan kulit buah. Hanya terdapat satu bukaan kecil yang cukup untuk burung jantan mengulurkan makanan kepada anak burung dan burung enggang betina. Apabila anak burung dan burung betina tidak lagi muat dalam sarang, burung betina akan memecahkan sarang untuk keluar dan membangun lagi dinding tersebut, dan kedua burung dewasa akan mencari makanan bagi anak-anak burung. Dalam sebagian spesies, anak-anak burung itu sendiri membangun kembali dinding yang pecah itu tanpa bantuan burung dewasa.
Ciri khas burung rangkong lainnya adalah suara dari kepakan sayap dan suara “calling”, seperti yang dipunyai Rangkong Gading (Buceros vigil) dengan “calling” seperti orang tertawa terbahak-bahak dan dapat terdengar hingga radius 3 km. Burung Rangkong tersebar mulai dari daerah sub-sahara Afrika, India, Asia Tenggara, New Guinea dan Kepulauan Solomon Sebagian besar hidup di hutan hujan tropis. Rangkong banyak ditemukan di daerah hutan dataran rendah dan perbukitan (0 – 1000 m dpl). Makanan Rangkong terutama buah-buahan dan sesekali binatang-binatang kecil seperti kadal, kelelawar, tikus, ular dan berbagai jenis serangga. Keanekaragaman burung Rangkong atau Enggang di Indonesia ini merupakan sebuah kebanggaan. Tetapi semakin hari populasi Rangkong di Indonesia semakin menurun. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya kawasan (habitat) sebagai akibat deforestasi hutan, berkurangnya makanan dan tempat bersarang, dan perburuan Rangkong (Sodhi, 2009).
Satu lagi yang unik dari cara hidup burung rangkong ini adalah bahwa burung ini tidak membuat sarang untuk tinggal dan berkembang biak selayaknya burung-burung yang lain. sebagai gantinya mereka biasanya memanfaatkan pohon yang memiliki cerukan. Ketika bertelur, burung rangkong betina ditutup bersama telur-telurnya di dalam cerukan pohon dengan lumpur. Hampir seluruhnya cerukan tertutup lumpur, hanya menyisakan celah kecil untuk sang jantan mengirim makanan kepada sang betina. Ini dilakukan sampai proses mengerami selesai dan anak-anak burung rangkong mulai dewasa. Cara ini dapat melindungi burung betina dan anaknya yang masih muda dari ancaman predator seperti macan dahan dan ular, tetapi tidak bagi orang semisal masyarakat kubu yang pandai memanjat pohon dan sangat menyukai daging burung rangkong ini (Widuri, 2009).
Makanan
Burung rangkong yang hidup di hutan hujan tropis umumnya bersifat frugivorous. Buah beringin (Ficus spp) yang berbuah sepanjang tahun di hutan tropis Indonesia merupakan makanan yang sangat penting bagi burung rangkong (Kemp 1995, Hadiprakarsa, 2001). Selain buah beringin, jenis buah-buahan lainnya juga di konsumsi oleh burung rangkong seperti buah pala hutan (Myristicaceae) yang kaya akan protein dan lipid, kenari-kenarian (Burseraceae). Selain makanan berupa buah-buahan, burung rangkong juga memakan invertebrata dan vertebrata kecil. Selain untuk memenuhi kebutuhannya seperti saat perkembangbiakan, makanan berupa invertebrata dan vertebatra kecil juga di konsumsi sebagai makanan pengganti di saat ketersediaan buah mulai menipis. Di dukung oleh postur tubuh yang memungkinkan burung rangkong terbang cukup jauh (200-1200 m/jam,) dan kapasitas perut yang cukup besar, burung rangkong dapat memencarkan biji hampir di seluruh bagian hutan tropis sehingga dapat menjaga dinamika hutan.
Menurut Rombang (2009:15) dari 600 jenis pohon ara yang ada, sedikitnya 200 jenis diantaranya merupakan pakan Rangkong. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan timbal balik yang kuat antara Rangkong dan pohon ara. Rangkong tidak bisa hidup tanpa ara, sebaliknya keberadaan ara pun tergantung pada Rangkong untuk penyebaran bijinya. Selama periode bersarang, Rangkong jantan akan memuntahkan hingga 150 buah ara untuk memberi makan keluarganya.
Selain itu dijelaskan juga oleh Monika (2008:2) bahwa beberapa jenis buahbuahan lainnya yang dikonsumsi Rangkong yaitu buah pala hutan (Myristicaceae) yang kaya akan protein. Syamsuardi dkk., (2006:68) menyatakan bahwa terdapat lebih dari 90 jenis Knema dari famili Myristicaceae. Namun pada pengamatan yang didapatkan hanya dua jenis Knema yang menjadi pakan Rangkong yaitu Knema globularia dan Knema furfuracea.
Reproduksi
Sebagian besar burung rangkong Indonesia hidup secara berpasangan (monogamous), hanya 3 jenis yang hidup secara berkelompok. Selama masa perkembangbiakan semua jenis burung rangkong yang hidup di hutan tropis bersarang di pohon berlubang yang terbentuk secara alami. Berdasarkan hasil penelitian pohon berlubang yang tersedia di alam mempunyai diameter pohon lebih besar dari 45 cm. Pada saat bersarang rangkong betina akan masuk kedalam lubang yang kemudian ditutup oleh lumpur dan kotorannya—hanya menyisakan sedikit celah untuk mengambil makanan dari rangkong jantan atau anggota kelompoknya dengan menggunakan paruh. Setiap jenis burung rangkong mempunyai daur perkembangbiakan yang berbeda, hal ini dipengaruhi oleh ketersediaan makanan, musim hujan dan pohon berlubang di dalam habitatnya. (Kemp, 1995). Setelah bersarang, selama 4-6 hari rangkong betina akan mengeluarkan telur yang berjumlah antara dua (untuk rangkong berukuran besar) sampai delapan butir telur (untuk rangkong berukuran kecil). Setelah telur menetas rangkong betina akan mengerami telurnya (inkubasi) mulai dari 23 sampai 42 hari tergantung dari jenisnya.
Konservasi
Seluruh jenis rangkong di Indonesia di lindungi oleh pemerintah yang di tuangkan dalam Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999. Berdasarkan IUCN, 5 jenis rangkong Indonesia berstatus terancam dan satu jenis bersifat mendekati kepunahan. Ancaman utama burung rangkong adalah hilangnya kawasan hutan dimana mereka tinggal. Selain tekanan terhadap habitatnya, burung rangkong juga mendapatkan ancaman lainnya seperti perburuan liar untuk diperdagangkan sebagai binatang peliharaan, dan sebagai hiasan rumah.
Deforestasi terjadi baik di hutan temperate maupun di hutan hujan  tropis. Hanya saja saat ini dunia sangat mengkhawatirkan laju deforestasi yang terjadi di hutan hujan tropis. Hal ini tidak terlepas dari penyustan hutan hujan tropis yang sangat besar. Padahal hutan berfungsi sebagai penyangga kehidupan di bumi yang kaya dengan keanekaragaman hayati dan menjadi penyimpan cadangan biomossa karbon paling besar. Faktor terbesar yang menyebabkan defortasi antara lain: konversi pertanian, illegal loging, kebakaran hutan, dan penggunaan kayu bakar.

Berdasarkan pernyataan (Naniwadekar, 2015) penebangan akan berdampak negatif terhadap kelimpahan tanaman pangan rangkong, terutama yang ditargetkan oleh penebangan. Ini bersamaan dengan perburuan yang menghasilkan pemindahan individu secara langsung dari populasi, yang akan berdampak negatif terhadap kelimpahan rangkong di lokasi tersebut. Kelangkaan pada Rangkong akan mengakibatkan berkurangnya kedatangan benih yang tersebar di tanah di lantai hutan.
Oke cukup sekian info tentang Enggang Gaing ini ya, semoga bermanfaat dan dapat menyadarkan masyarakat agar dapat melestarikan hewan kebanggaan Kalimantan Barat ini. 

You May Also Like

0 komentar