Penelitian Tindakan Kelas

by - 07.51



BAB I
PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang
            Proses pembelajaran  yang dilakukan oleh banyak oleh tenaga pendidik saat ini cenderung pada pencapaian target materi kurikulum, lebih mementingkan pada penghafalan konsep bukan pada pemahaman. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan pembelajaran dalam kelas  yang selalu didominasi oleh guru, dengan demikian suasana pembelajaran menjadi tidak kondusif sehingga siswa menjadi pasif.
Pada awal pembelajaran standar kompetensi memahami teori evolusi beserta bukti-buktinya belum menunjukkan hasil seperti yang diharapkan. Hal ini mungkin disebabkan karena metode pembelajaran sebelumnya yang digunakan kurang tepat atau sesuai. Data hasil tes formatif pertama dari 35 siswa menunjukkan bahwa yang tuntas hanya 10 siswa  atau 28,57% dengan batas tuntas apabila setiap siswa telah menguasai materi pembelajaran masing-masing kompetensi dasar 70% atau mendapat nilai minimal 70.
Berdasarkan uraian tersebut, mendorong peneliti untuk lebih meningkatkan hasil belajar siswa dengan menerapkan  metode belajar kooperatif Jigsaw, dan dalam proses pembelajaran memotivasi siswa untuk berperan secara aktif dan kreatif dalam menyelesaikan tugas-tugas maupun berdiskusi kelompok. Dengan penerapan  metode belajar kooperatif Jigsaw dalam proses pembelajaran diharapkan kesulitan yang dihadapi siswa  dalam menyelesaikan tugas-tugas atau sub bab yang diberikan, sehingga hasil belajar siswa dapat optimal.
Untuk meningkatkan hasil belajar siswa perlu diadakan  perubahan metode belajar yang digunakan siswa dalam proses pembelajaran. Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran sangat berpengaruh pada hasil belajar siswa itu sendiri, oleh karena   itu selama proses pembelajaran berlangsung keterlibatan siswa secara aktif dalam menyelesaikan tugas maupun berdiskusi kelompok akan  menunjang  pencapaian  hasil belajar sesuai dengan yang diharapkan.
Pembelajaran dengan menggunakan mo­del Jigsaw materi yang dipelajari biasanya ber­bentuk narasi tertulis dan tujuan pembelajaran­nya lebih diutamakan untuk penguasaan konsep daripada penguasaan kemampuan. Pengajaran materi Jigsaw biasanya berupa sebuah bab, na­rasi atau diskripsi yang sesuai. Para siswa beker­ja dalam sebuah tim yang heterogen, diberikan tugas membaca, memahami, mendiskusikan dan menyampaikan materi kepada rekan yang lain.
1.2       Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini antara lain :
1.    Bagaimana menerapkan pembelajaran dengan metode Jigsaw pada materi Evolusi kelas XII di SMA Negeri 4 Pontianak ?
2.    Apakah metode Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran ?
1.3       Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk :
1.    Menerapkan pembelajaran dengan metode Jigsaw pada materi Evolusi kelas XII di SMA Negeri 4 Pontianak.
2.    Meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan metode pembelajaran Jigsaw.
1.4       Manfaat
1.4.1    Manfaat Praktis
Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian tindakan kelas ini adalah :
1.    Bagi siswa
a)    Meningkatkan aktivitas belajar siswa, sehingga meningkatkan hasil belajar siswa
b)   Meningkatkan keterampilan berkomunikasi dan bersosialisasi untuk pengalaman belajar dan pembinaan perkembangan mental dan emosional para siswa.
c)    Melatih keberanian dan tanggung jawab siswa untuk mengajarkan materi yang telah ia dapat kepada anggota kelompok lain.
d)   Melatih siswa untuk berpikir kritis, kreatif dan inovatif dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi
e)    Meningkatkan kerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang di tugaskan.
f)    Meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pemahaman pembelajaran materi untuk dirinya sendiri dan orang lain.
2.    Bagi guru
a)    Guru dapat menerapkan metode pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.
b)   Guru dapat mengembangkan metode dan model pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan
3.  Bagi sekolah
a)    Dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilaksanakan disekolah
b)   Meningkatkan kompetensi dan prestasi sekolah
1.4.2    Manfaat Teoritis
            Merupakan sumbangan pemikiran dalam dunia pendidikan pada mata pelajaran IPA khususnya pada materi Evolusi, dan sebagai bahan atau referensi bagi para peneliti yang ingin mengembangkan dunia pendidikan.
1.5       Definisi Operasional
1.5.1    Hasil Belajar
            Hasil belajar merupakan hasil yang diperoleh siswa setelah terjadinya proses pembelajaran yang ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan oleh guru setiap selesai memberikan materi pelajaran pada satu pokok bahasan.
1.5.2    Jigsaw
            Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif, dengan siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang secara heterogen dan bekerjasama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada kelompok yang lain.
1.5.3    Evolusi
            Perubahan-perubahan yang terjadi pada makhluk hidup dari zaman ke zaman dipelajari dalam suatu teori yang disebut teori evolusi. Evolusi dalam biologi berarti proses kompleks pewarisan sifat organisme yang berubah dari generasi ke generasi dalam kurun waktu jutaan tahun. Evolusi mempelajari bagaimana spesies baru dapat muncul dari berbagai spesies tumbuhan dan hewan dalam jangka waktu tertentu. Evolusi juga mempelajari bagaimana spesies-spesies yang berbeda dapat memiliki kekerabatan.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1       Belajar dan Pembelajaran
2.1.1    Belajar
Cronbach menyatakan bahwa belajar itu merupakan perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Menurut Cronbach bahwa belajar yang sebaik-baiknya adalah dengan mengalami sesuatu yaitu menggunakan panca indra. Dengan kata lain, bahwa belajar adalah suatu cara mengamati, membaca, meniru, mengintiminasi, mencoba sesuatu, mendengar, dan mengikuti arah tertentu (Riyanto, 2012).
Menurut Gagne dinyatakan bahwa belajar merupakan kecenderungan perubahan pada diri manusia yang dapat dipertahankan selama proses pertumbuhan. Hal ini dijelaskan kembali oleh Gagne bahwa belajar merupakan suatu peristiwa yang terjadi di dalam kondisi-kondisi tertentu yang diamati, diubah, dan dikontrol (Riyanto, 2012).
Hergenhahn dan Olson (1993) berpendapat bahwa belajar adalah sebagai perubahan yang relatif tetap di dalam perilaku atau perilaku potensial sebagai hasil dari proses pengalaman dan bukan atribut dari perubahan atau pertumbuhan kondisi fisik yang diakibatkan oleh sakit, keletihan atau obat-obatan (Mularsih, 2010).

2.1.2    Pembelajaran
Menurut Muhaimin (dalam Riyanto, 2002) pembelajaran adalah upaya membelajaran siswa untuk belajar. Kegiatan pembelajaran akan melibatkan siswa mempelajari sesuatu dengan cara efektif dan efisien.

Pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Dalam definisi ini terkan- dung makna bahwa dalam pembelajaran ada kegiatan memilih,  menetapkan,  dan  mengembangkan  metode atau strategi yang optimal untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan (Degeng, 1997). Metode pembelajaran mengacu pada cara yang digunakan dalam kondisi tertentu untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan, sedangkan  strategi pembelajaran  mengacu pada penataan cara-cara memilih, menetapkan, dan mengembangkan strategi pembelajaran sehingga terwujud suatu urutan langkah yang prosedural yang dapat dipakai untuk mencapai hasil yang diinginkan (Mularsih, 2010).
2.2       Hasil Belajar
2.2.1    Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar adalah perolehan siswa setelah mengikuti proses belajar   dan perolehan tersebut meliputi tiga bidang kemampuan, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor (Bloom, 1974). Hasil belajar memiliki ciri (1) tingkah laku baru berupa kemampuan yang aktual, (2) kemampuan baru tersebut berlaku dalam waktu yang lama,  dan  (3)  kemampuan  baru  tersebut  diperoleh melalui suatu peristiwa belajar (Snelbecker, 1974). Perbuatan dan hasil belajar itu dapat dimanifestasikan dalam wujud (1) pertambahan materi pengetahuan  yang berupa fakta; informasi, prinsip atau hukum atau kaidah prosedur atau pola kerja atau teori sistem nilai-nilai dan sebagainya, (2) penguasaan pola-pola perilaku kognitif (pengamatan) proses berpikir; mengingat atau mengenal kembali, perilaku afektif (sikap-sikap apresiasi, penghayatan, dan sebagainya); perilaku psikomotorik (keterampilan-keterampilan  psikomotorik  termasuk yang  bersifat ekspresif), dan (3) perubahan dalam sifat- sifat kepribadian  baik yang tangible maupun intangible (Syamsudin, 2001) dalam (Mularsih, 2010).
            Untuk mengukur keberhasilan siswa dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik dengan tes tertulis maupun tes lisan, dan perbuatan, serta observasi atau pengamatan. Menurut  Howard  Kingsley  dalam  (Sujana,  2002:45)  membagi  tiga  macam  hasil belajar yaitu: (1) keterampilan dan kebiasaan, (2) pengetahuan dan pengertian, dan (3) sikap dan cita-cita. Masing-masing golongan dapat diisi dengan bahan-bahan yang ditetapkan dalam kurikulum sekolah (Budiardjo, 2010).
Sedangkan menurut Winkel (1991:106) hasil belajar merupakan bukti keberhasilan yang  telah  dicapai  seseorang  dimana  kegiatan  belajar  dapat  menimbulkan  suatu perubahan yang khas (Budiardjo, 2010).
Dari   hasil   definis   tersebut,   hasil   belajar   adalah   penguasaan   pengetahuan, keterampilan dan kebiasaan dengan acara mengembangkan melalui tes tertulis, tes lisan, perbuatan dan obcervasi atau pengamatan, serta tugas kelompok, tugas indvindu, tugas di rumah, dan ulangan harian yang dilakukan oleh guru (Budiardjo, 2010).
Hergenhahn dan Olson (1993) dalam (Mularsih, 2010) berpendapat bahwa belajar adalah sebagai perubahan yang relatif tetap di dalam perilaku atau perilaku potensial sebagai hasil dari proses pengalaman dan bukan atribut dari perubahan atau pertumbuhan kondisi fisik yang diakibatkan oleh sakit, keletihan atau obat-obatan.

2.2.2    Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern terdiri atas faktor-faktor jasmaniah, psikologi, minat, motivasi dan cara belajar. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan belajar yang berasal dari peserta didik yang sedang belajar. Faktor dari dalam ini meliputi kondisi fisiologis dan kondisi psikologi. Kondisi fisiologis adalah keadaan jasmani dari seseorang yang sedang belajar, keadaan jasmani dapat dikatakan sebagai latar belakang aktivitas belajar. Sedangkan kondisi psikologis yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar adalah kecerdasan, bakat, minat, motivasi, emosi dan kemampuan kognitif. Faktor ekstern yaitu faktor-faktor keluarga, sekolah dan masyarakat. Salah satu faktor ekstern yang mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah faktor sekolah, yang mencakup metoda mengajar, kurikulum, relasi guru siswa, sarana, dan sebagainya (Suryosubroto, 2010).
Hasil belajar siswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar adalah faktor intern (dari dalam) diri siswa dan faktor ekstern (dari luar) siswa. Berkaitan dengan faktor dari dalam diri siswa, selain faktor kemampuan, ada juga faktor lain yaitu motivasi, minat, perhatian, sikap, kebiasaan belajar, ketekunan, kondisi sosial ekonomi, kondisi fisik dan psikis. Kehadiran faktor psikologis dalam belajar akan memberikan andil yang cukup penting. Faktor-faktor psikologis akan senantiasa memberikan landasan dan kemudahan dalam upaya mencapai tujuan belajar secara optimal. Dari beberapa pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah faktor internal siswa antara lain kemampuan yang dimiliki siswa tentang materi yang akan disampaikan, sedangkan faktor eksternal antara lain strategi pembelajaran yang digunakan guru di dalam proses belajar mengajar. Dalam pembelajaran metode merupakan suatu cara atau tehnik yang di gunakan oleh guru dalam menyampaikan materi pelajaran sehingga dapat mempermudah pencapaian pesan dan mempercepat pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan (Suryosubroto, 2010).
Perubahan dan inovasi keduanya sama dalam hal memiliki unsur yang baru atau lain dari sebelumnya. Tetapi inovasi berbeda dengan perubahan, karna dalam inovasi ada unsur kesengajaan. Pembaruan misalnya dalam hal pembaruan sistim pengajaran (instructional system) apalagi dalam hal pembaruan kebijaksanan pendidikan umumnya mengandung unsur kesengajaan, dan kerenanya istilah pembaruan pada umumnya dapat disamakan dengan inovasi. Meningkatkan kemampuan adalah tujuan utama dari inovasi yaitu kemampuan pada sumber-sumber tenaga, uang dan sarana, termasuk sumber dan prosedur organisasi. Sehingga keseluruhan sistem perlu ditingkatkan agar semua tujuan yang telah direncanakan dapat dicapai dengan sebaik-baiknya (Suryosubroto, 2010).
2.3 Metode Jigsaw
2.3.1    Defenisi  Model Pembelajaran Teknik Jigsaw
Dari sisi etimologi Jigsaw berasal dari bahasa  ingris  yaitu gergaji ukir dan ada  juga yang menyebutnya dengan istilah Fuzzle, yaitu sebuah teka teki yang menyususn potongan gambar. Pembelajaran kooperatif model jigsaw ini juga mengambil pola cara bekerja sebuah gergaji ( jigsaw), yaitu siswa melakukan sesuatu  kegiatan belajar dengan cara  bekerja sama  dengan siswa lain untuk mencapai tujuan bersama. Model pemebelajaran kooperatif model jigsaw adalah sebuah model belajar kooperatif yang menitik beratkan  kepada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil, seperti yang diungkapkan Lie ( 1993: 73), bahwa pembelajaran kooperatif model jigsaw  ini merupakan  model belajar kooperatif  dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri atas empat  sampai dengan enam orang secara heterogen dan siswa bekerja sama  salaing ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara mandiri. Dalam model pembelajaran jigsaw ini siswa memiliki banyak kesempatan  untuk mengemukanakan pendapat, dan mengelolah informasi yang didapat dan dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasii, anggota kelompok bertanggung jawab atas keberhasilan  kelompoknya dan ketuntasan bagian materi yang dipelajari, dan dapat menyampaikan kepada kelompoknya ( Rusman, 2008.203) dalam (Fadhly)
Dalam model ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen lebih kecil. Selanjutnya, guru membagi siswa ke dalam kelompok belajar kooperatif, yang terdiri atas empat orang siswa sehingga anggota bertanggung jawab terhadap penugasan setiap komponen atau subtropik yang ditugaskan guru sebaik-baiknya. Siswa dari tiap-tiap kelompok yang bertanggung jawab terhadap subtropik yang sama membentuk kelompok lagi yang terdiri atas dua atau tiga orang (Hamdani, 2011).

Siswa-siswa ini bekerja sama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya dalam: (a) belajar dan menjadi ahli dalam subtropik bagiannya, (b) merencanakan cara mengajarkan subtropik bagiannya kepada anggota kelompok semula. Setelah itu, siswa tersebut kembali lagi kepada kelompok masing-masing sebagai “ahli” dalam subtropiknya dan mengajarkan informasi penting dalam subtropik tersebut kepada temannya. Ahli dalam subtropik lainnya juga bertindak serupa. Dengan demikian, seluruh siswa bertanggung jawab untuk menunjukkan penguasaannya terhadap seluruh materi yang ditugaskan oleh guru. Oleh karena itu, setiap siswa dalam kelompok harus menguasai topik secara keseluruhan (Hamdani, 2011)
            Metode Belajar kooperatif jigsaw siswa dibagi menjadi beberapa tim yang anggotanya terdiri dari 5 atau 6 siswa dengan karakteristik heterogen atau berbeda. Bahan ajar atau modul dibagikan pada siswa dalam bentuk teks dan tiap siswa bertanggung jawab untuk mempelajari suatu bagian dari bahan teks atau modul tersebut (Budiardjo, 2010).
            Para anggota dari beberapa tim yang berbeda memiliki tanggung jawab untuk mempelajari modul atau materi yang sama dan selanjutnya berkumpul untuk saling membantu mengkaji bagian bahan ajar tersebut yang disebut dengan kelompok pakar (expert group). Selanjutnya para siswa yang berada dalam kelompok pakar kembali ke kelompok semula untuk mengajar   anggota lain mengenai materi yang telah dipelajari oleh kelompok pakar (Budiardjo, 2010).
            Dalam pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, siswa lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep sulit apabila mereka saling mendiskusikan masalah-masalah tersebut dengan temannya. Melalui diskusi, akan terjadi elaborasi kognitif yang baik sehingga dapat meningkatkan daya nalar dan meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan pendapatnya (Hamdani, 2011).
            Beberapa peneliti menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw memiliki dampak positif terhadap kegiatan belajar mengajar, yakni meningkatkan aktivitas guru dan siswa selama pembelajaran, meningkatkan minat siswa dalam mengikuti pembelajaran (Hamdani, 2011).
            Selain itu, pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan lingkungan belajar yang mendorong siswa untuk belajar bersama dalam kelompok kecil yang heterogen, untuk menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran. Siswa melakukan interaksi sosial untuk materi yang diberikan kepadanya, dan bertanggung jawab menjelaskan kepada anggota kelompoknya. Jadi, siswa dilatih untuk berani berinteraksi dengan teman-temannya (Hamdani, 2011).
2.3.2    Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif Jigsaw
Menurut  Rusman, (dalam Fadhly) pembelajaran model jigsaw ini dikenal juga  dengan  kooperatif para ahli. Karena anggota setiap kelompok dihadapkan pada permasalahan yang berbeda. Namun, permasalahan yang dihadapi setiap kelompok sama, kita sebut sebagai team ahli yang bertugas membahas permasalahan yang dihadapi. Selanjutnya, hasil pembahasan itu di bawah kekelompok asal dan disampaikan  pada anggota kelompoknya. 
Kegiatan yang dilakukan sebagai berikut:
1.   Melakukan mambaca untuk menggali imformasi. Siswa memperoleh topik- topik  permasalahan untuk di baca sehingga mendapatkan informasi dari permasalahan tersebut
2. diskusi kelompok ahli.siswa yang telah mendapatka topik permasalahan yang sama bertemu dalam satu kelompokataqu kita sebut dengan kelompok ahli untuk membicaran topic permasalahan tersebut.
3. Laporan kelompok,  kelompok ahli kembali ke kelompok asal dan menjelaskan dari hasil yang didapat dari diskusi tim ahli.
4.  Kuis dilakukan mencakup semua topik permasalahan yang dibicarakan tadi.
5.  Perhitungan sekor kelompok dan menetukan penghargaan kelompok.
 Sedangkan menurut Aronson, Blaney, Stephen, Sikes and Snapp (1978 ) yang dikutip
Riyanto (2012), mengemukakan  langkah-langkah kooperatif model jigsaw sebagai
berikut:
1.      Siswa dikelompokan ke dalam = 4 anggota tim
2.       Tiap orang dalam tim diberi bagian materi  berbeda
3.      Tiap orang dalam tim diberi bagian  materi  yang ditugaskan
4.      Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/subb yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusiksn sub bab mereka.
5.      Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali kedalam kelompok asli dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kusai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan seksama
6.      Tiap team ahli mempresentasikan hasil diskusi
7.      Guru memberi evaluasi
8.      Penutup
            Langkah – langkah pada metode jigsaw ini antara lain ( Mursitho, 2011) :
1.      Sub tropik 1 berikan kepada kelompok A, sub tropik 2 kepada kelompok B, subtropik 3 kepada kelompok C
2.      Masing-masing kelompok berdiskusi
3.      Pilih tiap-tiap kelompok 1 pembicara
4.      Masing-masing pembicara berbicara di depan kelompoknya masing-masing, apabila sudah dianggap tepat dan bagus baru diangkat menjadi konsulat
5.      Instruksikan konsulat kelompok A memberikan pengajaran kepada kelompok B, konsulat kelompok B menyampaikan di kelompok C, dan konsulat kelompok C menyampaikan dikelompok A
6.      Putar lagi konsulat kelompok A menyampaikan di C, konsulat B menyampaikan di A, konsulat C menyampaikan di B
7.      Simpulkan
2.4 Materi Evolusi
2.4.1 Pengertian Evolusi
            Perubahan-perubahan yang terjadi pada makhluk hidup dari zaman ke zaman dipelajari dalam suatu teori yang disebut teori evolusi. Evolusi dalam biologi berarti proses kompleks pewarisan sifat organisme yang berubah dari generasi ke generasi dalam kurun waktu jutaan tahun. Evolusi mempelajari bagaimana spesies baru dapat muncul dari berbagai spesies tumbuhan dan hewan dalam jangka waktu tertentu. Evolusi juga mempelajari bagaimana spesies-spesies yang berbeda dapat memiliki kekerabatan (Pratiwi dkk, 2007):
2.4.2    Asal usul Kehidupan
            Asal usul kehidupan, diantaranya, yaitu (Khristiyono, 2008) :
a.       Teori kreasi khas menyatakan bahwa kehidupan diciptakan oleh kekuatan supernatural/gaib/Tuhan
b.      Teori kosmozoan menyatakan bahwa kehidupan berasal dari luar angkasa dan masuk ke bumi melalui benda langit yang sampai ke bumi
c.       Teori abiogenesis menyatakan bahwa kehidupan dapat muncul secara spontan dari benda mati. Teori ini dikemukakan oleh Aristoteles dan diperkuat melalui temuan mikroskop oleh Antony Van Leuwenhoek, yaitu adanya mikroorganisme pada rendaman jerami
d.      Teori biogenesis menyatakan bahwa kehidupan berasal dari makhluk hidup yang sudah ada sebelumnya. Penelitian yang dilakukan untuk mendukung teori biogenesis dan menolak abiogenesis dilakukan oleh:
-          Fransisco Redi; menempatkan sekerat daging pada toples yang terbuka dan tertutup. Setelah beberapa hari muncul belatung pada toples yang tidak tertutup
-          Lazzaro Spallanzani; mendidihkan kaldu pada labu yang tertutup dan terbuka setelah itu dibiarkan beberapa hari. Hasilnya labu yang terbuka keruh, sedangkan labu yang tertutup tetap jernih,
-          Louis Pasteur mendidihkan kaldu pada labu yang diberi tutup pipa berbentuk leher angsa sehingga mulut labu tetap terbuka, tetapi di dalam pipa leher angsa terdapat air yang menutup labu dari dunia luar. Hasilnya, kaldu dalam labu tersebut tetap jernih. Hasil eksperimen ketiganya, terutama Louis Pasteur, menunjukkan kebenaran teori biogenesis sekaligus menggugurkan teori abiogenesis. Teori biogenesis berbunyi “Omne vivum ex ovo, omne vivum ex vivo”
e.       Teori evolusi menjelaskan terbentuknya makhluk hidup melalui proses perubahan pada makhluk yang berlangsung secara perlahan dan jangka waktu yang lama. Beberapa teori evolusi yang telah dirumuskan para ahli biologi diantaranya:
-          Jean Baptista Lamarck mengemukakan bahwa alam sekitar (lingkungan) mempunyai pengaruh terhadap perubahan organ organisme (adaptasi) dan perubahan tersebut diwariskan. Organ yang sering digunakan akan berkembang, sedangkan organ yang tidak digunakan mengalami kemunduran. Teori ini menjelaskan munculnya jerapah berleher panjang karena daun yang semakin tinggi
-          Charles Darwin mengemukakan hipotesis seleksi alam dalam bukunya yang berjudul “On The Origin of Spesies by means of Natural Selection”. Menurut teori evolusi Darwin, munculnya jerapah berleher panjang dapat dijelaskan bahwa dalam populasi jerapah terdapat variasi ukuran leher. Oleh karena makanan (daun-daunan) semakin tinggi, maka jerapah berleher panjang akan bertahan hidup, sedangkan jerapah berleher pendek akan punah
2.4.3    Bukti Adanya Evolusi
            Beberapa bukti yang mendukung teori evolusi Darwin, yaitu (Khristiyono, 2008) :
a)      Adanya variasi individu, mengakibatkan tidak adanya individu identik, bahkan makhluk hidup yang kembar identik (1 telur) masih memiliki variasi
b)      Homologi, organ-organ yang mempunyai asal sama, tetapi fungsi berbeda. Analogi adalah organ yang fungsinya sama, tetapi berasal dari struktur yang berbeda.
c)      Embrio perbandingan, menunjukkan adanya persamaan :
-          Urutan perkembangan embrio hewan dari fertilisasi-zigot-blastula-gastrula-diferensiasi dan spesialisasi
-          Bentuk embrio yang mirip pada hewan vertebrata dan semuanya mempunyai kantong insang yang kemudian mengalami perkembangan yang berbeda
d)     Fosil, adalah sisa-sisa organisme yang telah membatu.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1       Setting Penelitian
3.1.1    Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 4 Pontianak untuk mata pelajaran IPA Biologi yang ditujukan pada siswa kelas XII IPA.
3.1.2    Waktu Penelitian
            Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan Juni. Penelitian mengacu pada kalender akademik sekolah, karena PTK memerlukan beberapa siklus yang membutuhkan proses belajar mengajar yang efektif di kelas.
3.1.3    Siklus PTK
PTK ini dilaksanakan melalui 2 siklus untuk melihat peningkatan hasil belajar siswa dalam mengikuti mata pelajaran IPA Biologi terutama pada materi Evolusi melalui pembelajaran kooperatif metode Jigsaw.
3.2       Subjek Penelitian
            Dalam PTK ini yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas XII IPA 1 SMA Negeri 4 Pontianak yang terdiri dari 35 siswa dengan komposisi laki laki 15 siswa dan perempuan 20 siswa.
3.3       Sumber Data
3.3.1    Siswa
            Untuk mendapatkan data tentang hasil belajar siswa dalam proses belajar mengajar
3.3.2    Guru
            Untuk melihat tingkat keberhasilan implementasi pembelajaran kooperatif dengan metode Jigsaw dan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran.
3.3.3    Teman Sejawat dan Kolabolator
            Teman sejawat dan kolabolator dimaksudkan sebagai sumber data untuk melihat implementasi PTK secara komprehensif, baik dari sisi siswa maupun guru.
3.4       Teknik dan Alat Pengumpulan Data
            Teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam PTK ini adalah teknik observasi, baik pada siswa maupun guru, teknik wawancara untuk klarifikasi pada suatu tanggapan maupun wawancara secara mendalam, listen study untuk mengkomunikasikan atau bertanya dengan sesama guru mata pelajaran. Selain itu juga teknik tes objektif yang dibuat oleh peneliti dan kolabolator. Dalam melakukan observasi diigunakan format observasi pada siswa dan guru. Pada saat melakukan wawancara juga digunakan panduan wawancara untuk menggali minat, sikap, dan perasaan, peghargaan siswa saat melakukan suatu prestasi atau kesalahan.
3.5 Analisis Data
Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif. Data yang telah diperoleh secara kuantitatif kemudian dianalisis dengan analisis deskriptif. Data yang dianalisis meliputi hasil pengamatan karakter siswa pada proses dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA Biologi materi Evolusi.
Dalam menganalisis data digunakan deskriptif komparatif yang dilanjutkan dengan refleksi. Deskriptif komparatif dilakukan dengan membandingkan data kondisi awal, siklus I dan siklus II dari hasil belajar siswa. Hal ini untuk mengetahui adanya kenaikan dan perbedaan. Membandingkan data tidak menggunakan statistik, melainkan dengan cara mendeskripsikan hasil komparatif yang dianalisis bersama kolaborator. Refleksi artinya menarik simpulan berdasarkan deskriptif komparatif kemudian dilanjutkan memberikan ulasan dan langkah-langkah untuk tindak lanjut hasil.
3.6     Prosedur Penelitian
Penelitian  ini  dilakukan  dengan  menggunakan  metode  penelitian  tindakan  kelas yang terdiri dari dari tiga siklus. Langkah-langkah dalam setiap siklus terdiri dari empat kegiatan yaitu:
1)                  Perencanaan (Planning), Pelaksanaan tindakan (Acting), Pengamatan (Observing), dan refleksi (Reflecting).
Pada siklus 1, langkah-langkah penelitian yang dilaksanakan pada siklus 1 adalah Perencanaan (Planning) meliputi:
a)      Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
b)      Penyusunan Rencana pembentukan kelompok belajar, tiap kelompok terdiri

dari 5 – 6 siswa
c) Menyiapkan instrumen observasi
2)      Pelaksanaan  Tindakan (Acting). Proses pembelajaran dilaksanakan sesuai Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah dipersiapkan meliputi:
(a)    Memberi penjelasan tentang belajar kooperatif jigsaw
(b)     Membagi siswa menjadi enam kelompok setiap kelompok terdiri dari lima sampai enam siswa yang disebut kelompok jigsaw
(c)     Pembelajaran dibagi menjadi beberapa bagian, masing-masing siswa mendapat satu bagian yang harus diselesaikan. Siswa yang mendapat bagian sama berkumpul membentuk kelompok baru yang disebutcounterpart group”atau kelompok ahli
(d) Dalam  kelompok ahli siswa mengerjakan tugas bersama, berdiskusi, mengklarifikasi dan merencanakan bagaimana cara untuk menyampaikan hasil dari penyelesaian tugas kepada anggota kelompok semula atau kelompok jigsaw
(e) Setelah siap siswa kembali ke kelompok jigsaw, dan masing-masing siswa menjelaskan hasil penyelesaian tugas kepada teman yang lain, secara bergiliran sehingga setiap siswa memiliki semua tugas yang diberikan guru.
(f) Sebagai evaluasi dari hasil kerja kelompok beberapa siswa ditunjuk untuk mempresentasikan   hasil   diskusinya,   dihadapan   kelompok   lain
(g)   Melakukan pemantauan dan bimbingan. (h) Setiap akhir siklus siswa mengerjakan soal tes formatif.
3)      Pengamatan (Observing). Dengan menggunakan instrument observasi yang telah disediakan, selama pelaksanaan kegiatan dilakukan pengamatan mengenai keterlibatan atau keaktifan siswa dalam pembelajaran.
4)      Refleksi (Reflecting). Refleksi dilakukan untuk  mengetahui  sejauh  mana  efektivitas  pelaksanaan  siklus  I,    kekurangan  dan kelebihan yang timbul pada siklus I  tersebut dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan tindakan pada siklus berikutnya. Pada siklus II,  langkah-langkah penelitian yang dilaksanakan sama dengan langkah-langkah pada  siklus I.
 
Daftar Pustaka

Budiardjo, Setu. Penerapan Metode Belajar Kooperatif Jigsaw Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas XII Teknik Pengendaraan Ringan-2 SMK Negeri 5 Semarang Dalam Menyelasaikan Turunan Fungsi. Jurnal Penelitian.
Fadhly, M.Pd. Model Pembelajaran Kooperatif Teknik Jigsaw. Jurnal Penelitian.
Hamdani, M.A. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia.
Khristiyono. 2008. Biologi SMA dan MA. Jakarta: ESIS.
Kunandar, S.Pd., M.Si. 2008. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jagakarsa: Raja Grafindo Persada.
Mularsih, Heni. Strategi Pembelajaran Tipe Kepribadian dan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Pada Siswa Sekolah Menengah Pertama. Jurnal Penelitian.  Vol 14 No 1. 2010.
Murshito, Joko. 2011. Mengajar dengan Sukses. Jakarta: Pustaka Tunasmedia.
Nur hidayah, M.Pd. 2013. Panduan Praktis Penyusunan dan Pelaporan PTK. Tegal: Prestasi Pustaka Publisher.
Pratiwi, dkk. 2007. Biologi untuk SMA Kelas XII. Jakarta: Erlangga.
Riyanto, Yatim. 2012. Paradigma Baru Pembelajaran. Surabaya: Kencana.
Santoso, Dwi. Penerapan  Pembelajaran Kooperatif Metode Jigsaw Untuk  Meningkatan Perilaku Sosial Dan  Prestasi Belajar Pada Mata Pelajaran Geografi Siswa Kelas Xi Ips 2 Sma Negeri Jumapolo Karanganyar  Tahun Pelajaran 2006/2007. Jurnal Penelitian.
















 

You May Also Like

0 komentar